Malaikat dan jin memiliki persamaan dalam beberapa perkara, diantaranya:
1. Malaikat dan jin memiliki jasad.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Rahimahullah sebagaimana yang disebutkan dalam “Majmu Fatawa” (10/399), “Para
malaikat dan syaitan itu berakal sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil
yang datang dari para Nabi.”
2. Malaikat dan jin tidak bisa kita
lihat kecuali jika mereka berubah bentuk dengan bentuk yang bisa kita lihat
sebagaimana yang disebutkan dalam kisah tamunya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dan hadirnya para malaikat di sisi nabi Luth serta datangnya Jibril dalam
bentuk seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya.
Malaikat Jibril juga pernah datang dalam bentuk seseorang yang wajahnya mirip
dengan Dihyah Al Kalby [1] dan yang
lainnya.
3. Malaikat dan jin itu mati kecuali
yang dikecualikan oleh Allah Subhaanahu wata’aala, dari kalangan malaikat seperti Malaikat penjaga surga dan neraka, malaikat
pembawa ‘Arsy serta yang lainnya.
4. Malaikat dan jin berakal.
5. Malaikat dan jin mampu untuk terbang namun
perbedaannya sangat jauh .
6. Malaikat dan jin memiliki ilmu dan
amalan-amalan dengan tingkat ilmu dan amalan yang berbeda.
7. Tidak ada seorang manusia
pun kecuali ada seorang pendamping dari kalangan malaikat dan pendamping dari
kalangan jin sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam
risalah kami “Inqaadzu Al Muslimin Min Waswasat Al jin Wa Asy
Syayaathiin” (Menyelamatkan Kaum Muslimin dari Waswas Jin dan Syaitan).
Sumber Kitab Terjemah : “HUKUM BERINTERAKSI
DENGAN JIN” Pustaka : Ats Tsabat.
[1] Dihyah bin
Khalifah bin Farwah Al-Kalbi, seorang sahabat yang dikenal memiliki wajah yang
sangat tampan, sehingga Jibril terkadang menyerupakan diri seperti wajahnya.
(Pen).
PERBEDAAN ANTARA MALAIKAT DAN JIN
Diantara kaum muslimin ada yang tidak mengetahui
tentang perbedaan antara malaikat yang mulia dengan jin dan syaitan. Bahkan
penyimpangan sebagian umat sampai kepada taraf menyamakan antara malaikat
dengan jin. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam kitab “At
Tafsir Al Kabir” yang disandarkan kepadanya (7/381), “Kaum musyrikin Arab dan
ahli kitab meyakini adanya malaikat meskipun mayoritas mereka menganggap bahwa
malaikat dan syaitan itu merupakan satu jenis. Maka siapa diantara mereka yang
keluar dari ketaatan kepada Allah Subhaanahu wata’aala, jatuhlah
kedudukannya dan menjadi syaitan. “Kaum musyrikin Arab dan ahli kitab
mengingkari bahwa iblis adalah nenek moyang jin dan mengingkari pula bahwa jin
itu menikah, melahirkan, makan dan minum. Bahkan sebagian orang Arab menyangka
bahwa malaikat adalah keturunan jin sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian
ahli tafsir.
Penyebutan perbedaan keduanya bisa membantu kita
untuk mengenal malaikat dengan pengenalan yang benar. Perbedaan-perbedaan
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Malaikat diciptakan dari cahaya sedangkan jin diciptakan dari api. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Aisyah Radhiallahu ‘anha dalam Shahih
Muslim (2996) dia berkata, “bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam
:
2.
خُلِقَتِ
المَلَائِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
“Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin
diciptakan dari api yang bercampur dengan hitamnya api.”
Ini merupakan perbedaan yang mencolok dalam hal
asal penciptaan, terlebih lagi ada perbedaan lain dalam sifat dan perbuatannya.
3. Nama-nama malaikat berbeda dengan nama-nama
jin baik secara global maupun terperinci. Adapun nama-nama malaikat mengandung
makna utusan. Maka malaikat bermakna para utusan Allah dan nama At Tasyaitan
artinya yang melampaui batas. Nama-nama ini secara global sudah menunjukkan
perbedaan apalagi secara terperinci. Sedangkan Al Iblis berasal dari kata Al
Iblas, artinya yang berputus asa dari rahmat Allah Subhaanahu
wata’aala.
Perhatikanlah nama Jibril, Mikail, Israfil dan
yang lainnya. Engkau mendapati bahwa nama-nama malaikat itu adalah nama- nama
yang indah dan bagus sedangkan nama-nama jin dan syaitan itu jelek.
4. Para malaikat diciptakan oleh Allah Subhaanahu
wata’aala dengan tabiat selalu taat kepada Allah Subhaanahu wata’aala,
dan tidak ada pilihan bagi malaikat apakah dia mau taat atau tidak. Berbeda
dengan jin, dimana Allah Subhaanahu wata’aala, menjadikan mereka
mempunyai pilihan dan kehendak sebagaimana manusia. Siapa yang ingin beriman,
maka dia memilihnya dan siapa yang ingin kekufuran, maka dia memilihnya.
Tatkala jin diberi pilihan tersebut, banyak dari kalangan mereka yang memilih
kekufuran daripada keimanan.
5. Para malaikat tidak memiliki syahwat. Oleh
karena itu, mereka tidak makan, tidak minum dan tidak menikah. Adapun para jin,
mereka makan, minum, menikah dan yang lainnya.
6. Para malaikat tidak pernah bermaksiat kepada
Allah Subhaanahu wata’aala, sedikit pun walaupun hanya sekejap mata.
Adapun mayoritas jin adalah kafir bahkan kekufuran pada mereka lebih banyak
jika dibandingkan dengan kekufuran pada manusia. Apa yang tersebar bahwa Harut
dan Marut adalah nama 2 malaikat, tidaklah benar bahkan keduanya adalah jin.
Barangsiapa yang berpendapat bahwa keduanya adalah malaikat, mereka bersandar
pada kisah-kisah Israiliyyat yang tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dan
tidak bisa ditegakkan sebagai hujjah serta tidak ada satu pun hadits shahih
tentang hal ini.
7. Malaikat jauh lebih kuat daripada jin. Bahkan
sebagian malaikat, ada yang tidak bisa dibandingkan kekuatannya dengan seluruh
jin seperti Malakul Maut. Malakul Maut hanya seorang diri, namun dia mampu
mencabut ruh-ruh dari penduduk barat dan timur dalam waktu sekejap. Sungguh
Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, telah melihat Jibril dan dia
memiliki 600 sayap. Hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari (4856) dari hadits
Ibnu Mas’ud radiallohu ‘anhu.
Ada juga 8 malaikat yang memikul ‘Arsy. Sungguh
Allah Subhaanahu wata’aala, telah menjadikan para malaikat sebagai bala
tentaranya yang paling kuat dan Allah Subhaanahu wata’aala,
memperlihatkan seluruh jagat raya kepada mereka dan kekuatan mereka pun
berbeda-beda. Allah Subhaanahu wata’aala, berfirman:
جَاعِلِ
الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ
فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Yang
menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing
dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang
dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.
Fathir : 1)
8. Para malaikat lebih utama dari para jin baik
dalam hal penciptaan, bentuk, perbuatan maupun keadaan.
9. Malaikat memiliki jumlah yang sangat banyak
dan jumlahnya melebihi jumlah jin, manusia dan hewan karena mereka senantiasa
mengurusi para makhluk tersebut dan mengurusi yang lainnya. Diantara mereka ada
yang ruku’, ada yang sujud, adapula yang bertasbih dan beristighfar serta yang
lainnya.
10. Allah Subhaanahu wata’aala,
menciptakan malaikat untuk melayani bani Adam dan merekapun (para malaikat)
senantiasa melakukan tugas tersebut. Adapun mayoritas jin berusaha menyesatkan
manusia dan menyimpangkan mereka dari jalan Allah Subhaanahu wata’aala,.
Yang berada di baris terdepannya adalah nenek moyang mereka yaitu Iblis
sebagaimana yang telah diketahui secara pasti dalam agama ini.
11. Para malikat bertugas mengurusi jin dan
membantu mereka sesuai dengan kehendak Allah Subhaanahu wata’aala.
12. Malaikat mampu melihat jin di setiap waktu.
Adapun jin tidak bisa melihat malaikat kecuali jika malaikat itu berubah bentuk
dengan bentuk yang mampu dilihat oleh jin. Karena jika jin melihat malaikat,
maka tidak tersisa sedikitpun dari ilmu ghaib yang wajib diimani oleh mereka.
13. Allah Subhaanahu wata’aala menciptakan
malaikat sebelum menciptakan jin. Dalil yang menunjukkan tentang hal ini adalah
bahwa diantara para malaikat ada yang bertugas memikul ‘Arsy sedangkan kita
sudah mengetahui bahwa Arsy itu diciptakan sebelum Allah Subhaanahu
wata’aala menciptakan
langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya.
14. Malaikat merupakan alam ghaib bagi jin. Oleh
karena itu, Allah Subhaanahu wata’aala, mewajibkan kepada jin untuk
beriman kepada para malaikat.
15. Malaikat mampu menguasai jin dengan izin
Allah Subhaanahu wata’aala. Oleh karena itu, malaikat mampu melihat jin
dan mencabut ruh-ruh mereka serta mampu menghalangi kaum jin ketika hendak
menyakiti manusia sesuai dengan kehendak Allah Subhaanahu wata’aala.
Adapun jin tidak mampu menguasai para malaikat dan hal ini sudah diketahui
secara pasti.
16. Para malaikat secara umum disifati dengan
sifat-sifat yang terpuji.
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman
tentang mereka:
يَخَافُونَ
رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas
mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan.” (QS. An Nahl : 50)
وَهُمْ مِنْ
خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
“Dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut
kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya : 28)
Allah Subhaanahu wata’aala juga
berfirman :
لَا يَعْصُونَ
اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim:6 )
Allah Subhaanahu wata’aala juga
berfirman :
بَلْ عِبَادٌ
مُكْرَمُونَ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
“Bahkan mereka adalah hamba-hamba yang
dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka
mengerjakan perintah-perintahNya.“ (QS. Al Anbiya:26-27)
Adapun mayoritas jin memiliki sifat-sifat yang
jelek, seperti memberikan waswas, menghiasi perbuatan jelek sebagai satu
kebaikan, memalingkan, membuat makar dan tipu daya, melampaui batas serta
berbuat zhalim dan sebagainya.
17. Malaikat tidak berjenis kelamin laki-laki
ataupun perempuan. Kaum jahiliyah telah terjatuh ke dalam kesalahan yang besar
ketika mereka mengatakan: “Para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.”
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ
الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ
وَيُسْأَلُونَ
“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang
mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang
perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak
akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai
pertanggung-jawaban.“ ( QS. Az Zukhruf :19)
Allah Subhaanahu wata’aala, berfirman
mengabarkan tentang mereka:
أَصْطَفَى
الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Apakah Tuhan memilih anak-anak perempuan
daripada anak laki-laki?“ Apakah yang terjadi padamu?
Bagaimana kamu menetapkan?“ (QS. Ash Shaffaat : 153-154 )
Mereka (para malaikat) tidak disifati laki-laki
karena hal ini mengharuskan bahwa diantara mereka ada yang perempuan, akan
tetapi mereka dikatakan sebagai hamba-hamba Ar Rahman dan tentara-tentara Allah
Subhaanahu wata’aala sebagaimana Al-Qur’an menamakan mereka dengan
hamba-hamba Ar Rahman. Adapun jin, ada yang laki-laki dan ada juga yang
perempuan. Hal ini sudah diketahui secara pasti dalam agama.
Allah Subhaanahu wata’aala, berfirman
tentang iblis nenek moyang jin:
أَفَتَتَّخِذُونَهُ
وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ
“Patutkah kamu mengambil dia dan keturunannya
sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?“ ( QS. Al -Kahfi : 50 )
18. Para malaikat senantiasa menolong di atas
kebaikan kepada para nabi dan rasul serta para pengikutnya. Oleh karena itu,
malaikat merupakan sumber kebaikan terhadap manusia dengan cara memberikan
ilham kepada manusia. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah
sebagaimana yang disebutkan di dalam “Majmu Fatawa” 4/34 ) : “Maka sumber ilmu
yang benar dan kehendak yang baik itu berasal dari ilham para malaikat dan
sumber keyakinan yang batil serta kehendak yang buruk dari bisikan syaitan.”
Malaikat tidak pernah menolong para tukang sihir
dan ahli nujum dan tidak pula membantu orang-orang yang sesat, rusak dan
menentang syari’at. Berbeda dengan syaitan dari kalangan jin. Mereka memberi
kekuatan dan pertolongan pada setiap kejelekan, kerusakan dan kejahatan. Bahkan
mereka adalah sumber segala kefasikan, kekufuran dan kefajiran.
19. Para malaikat tinggal di langit. Allah Subhaanahu
wata’aala, berfirman :
تَكَادُ
السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ
بِحَمْدِ رَبِّهِمْ
“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas
dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun
bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.“ ( QS. Asy
Syura : 5 )
Yang menjadi inti adalah lafazh “dari atas
mereka.”
Allah Subhaanahu wata’aala
,juga berfirman :
فَإِنِ
اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ
وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ
“Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang
di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka
tidak jemu-jemu.” (QS. Fushshilat :38 )
Allah Subhaanahu wata’aala, juga berfirman
:
وَمَا
نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ
“Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah
Tuhanmu.“ (QS. Maryam : 64)
Maka mereka turun dari langit ke bumi. Adapun
para syaitan dimana iblis berada di baris terdepan, mereka tinggal di bumi.
Mayoritas mereka tinggal di tempat-tempat yang kotor seperti tempat-tempat
najis, tempat sampah, tempat buang air kecil dan besar serta tempat-tempat lainnya
yang kotor. Maka demikian jauh perbedaan antara yang tinggal dilangit dan yang
tinggal di bumi. Bagaimana mungkin dibandingkan dengan yang biasa tinggal di
tempat-tempat yang kotor?
20. Para malaikat bisa terbang ke langit yang
tinggi karena asal penciptaan malaikat mampu terbang ke atas langit yang tinggi
dan kemana saja sesuai dengan kehendak Allah Subhaanahu wata’aala . Berbeda dengan jin dimana asal penciptaan mereka tidak mampu terbang namun
hanya berjalan melata di permukaan bumi dan bisa terbang jika mereka berubah
bentuk. Adapun kemampuan terbang jin itu sangat lemah jika dibandingkan dengan
kemampuan terbang para malaikat.
21. Para malaikat mampu menembus
penghalang-penghalang bahkan bisa sampai menembus ke bumi yang ketujuh,
sebagaimana yang telah diketahui bahwa para malaikat senantiasa mengurusi dunia
dan segala isinya. Allah Subhaanahu wata’aala, berfirman menyebutkan tentang sifat malaikat:
فَالْمُدَبِّرَاتِ
أَمْرًا
” Dan yang mengatur urusan.” (QS. An Naziat : 5)
Permusuhan antara jin dan para malaikat itu akan
senantiasa ada. Para malaikat memusuhi iblis dan siapa saja yang bersamanya
bahkan mereka melaknat iblis dan para pengikutnya. Allah Subhaanahu
wata’aala, befirman :
إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ
اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati
dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat la’nat Allah, para Malaikat dan
manusia seluruhnya.“ (QS. Al Baqarah :161 )
Dan dalil-dalil lain baik dari ayat-ayat
Al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam.
Dari perbedaan-perbedaan tersebut diatas jelaslah
bahwa malaikat tidak bisa disamakan dengan jin dan syaitan baik dalam hal
penciptaan, bentuk, nama, sifat, dan perbuatan dari awal sampai akhirnya.
Barangsiapa yang menyamakan antara keduanya, sungguh dia telah sesat dari jalan
yang lurus.
Sumber : Kitab
Terjemah : “HUKUM BERINTERKASI DENGAN JIN” Hal 25-36

Tidak ada komentar:
Posting Komentar